Minggu, 02 Juni 2013

IDENTITAS DAN KONFLIK INGGRIS - AMERIKA SERIKAT



IDENTITAS DAN KONFLIK INGGRIS - AMERIKA SERIKAT
OLEH: TRIANING THIAS[1]


A.  PENDAHULUAN
Inggris adalah negara kerajaan yang terkenal dan makmur. Nenek moyangnya yang agresif, mengarungi samudera luas dan menaklukan serta menjajah bangsa-bangsa di Benua Asia, Afrika, Australia dan Amerika. Pengaruhnya yang kuat dan jajahannya yang sangat luas membuat bahasa Inggris menjadi bahasa utama di dunia. Jumlah jajahannya tidak kurang 65 negara yang terdiri atas 48 negara persemakmuran dan 17 masih bersifat koloni.[2] Amerika sendiri merupakan bekas jajahan Inggris dan merdeka pada tanggal 4 Juli 1776. Amerika merupakan negara super power  dan paling maju di dunia.[3] 
Pada saat perang Inggris dan Perancis, banyak orang Amerika yang menjadi tentara rakyat dengan tidak pernah menerima latihan terlebih dahulu. Mudah dipahami apabila mereka kurang mengenal disiplin tentara yang sebenarnya, apalagi mereka masih muda berusia antara 16 hingga 29 tahun. Walaupun demikian dengan berbagai pertempuran yang ada membuktikan bahwa mereka adalah para pejuang yang harus diperhitungkan. Secara terperinci tentang tentara rakyat Amerika yang mengabdi untuk waktu yang terbatas diuraikan berikut ini:
During time of war English colonist became reluctant mili-tiamen who would only serve for shorts terms and who were untrained as soldiers. They proved themselves to be the firstrate fighters on many occasions, but they often refused to fight beyond the boundaries of their own colony or during the seasons when they were needed on the farm.[4]
Sebagian mereka ada yang marah terhadap sikap tentara Inggris yang menhukum mereka jika melanggar disiplin. Akibatnya, setelah perang selesai secara umum orang Amerika mulai menemukan identitasnya. Walaupun mereka masih mengibarkan bendera Inggris atau minum arak untuk kesahatan raja Inggris, tetapi mereka secara mantap menyatakan bahwa diri mereka sebagai warga koloni AS. Hal ini sejalan dengan ucapan mereka, seperti: “I am a Massachusetts man, a Virginia man, a Georgia man.[5]
Selain mempunyai identitas yang makin mantao, wawasan mereka juga makin meluas karena sejak pertengahan abad XVIII hubungan dagang antara Amerika Serikat, Inggris dan Perancis semakin lancar. Selain itu, mereka yang berharta juga dapat memuaskan selera model pakaian mereka. Sebagian mereka ketika di kota-kota besar dapat memerhatikan boneka diberi pakaian model mutakhir yang dikenal sebagai grand courier de la mode (guide to the fashions). Bahkan dikatakan “If you went to Philadhelphia or New York or Boston, you would find theaters, newspaper, concerts, dances, tavernsthe various things that make up the web of city lfe.”[6] Selain berbagai pusat hiburan, Amerika Serikat juga berhasil mengembangkan industri bajanya.





B.  PEMBAHASAN
Dalam kondisi masyarakat koloni yang demikian itu, Inggris ingin menguatkan pemerintahan koloninya secara kurang bijak.[7] Perang dengan Perancis juga banyak menghabiskan dana Inggris sehingga mereka yang berkuasa di London ingin membayar berbagai pengeluaran yang ada. Semua pengeluaran tadi telah berganti menjadi hutang. Sejak 1754 hingga perang selesai, hutang Inggris dari 73 juta pound menjadi 137 juta pound. Pelunasan hutang dapat segera dilakukan Inggris jika Amerika turut membayar sehingga sewajarnya apabila penduduk Amerika dikenakan pajak.[8]
Pada prinsipnya semua pajak yang akan dipungut dari koloni ditentang rakyat Amerika secara keras karena belum pernah sebelumnya parlemen membebani koloni dengan pajak. Agar protes mereka mendapat perhatian dari kelompok penguasa, mereka meneriakkan “No Taxation without representation” beberapa contoh pajak yang mendapat protes diantaranya:[9]
  1. Sugar Act (1764)
Mengenakan pajak kepada gula, kopi, anggur, dan berbagai hasil yang lain seperti besi, bahan mentah sutera serta potash, yang diimpor ke Amerika Serikat.
  1. Currency Act (1764)
Yang melarang Amerika mencetak uang kertas sendiri. Larangan ini sangat merugikan karena orang Amerika tidak mempunyai tambang emas atau perak dan tidak dapat mengimpor emas karena akan menyebabkan deficit neraca perdagangan.


  1. Stamp Act (1765)
Yang mengenakan pajak kepada semua barang yang dicetak di Amerika Serikat. Semua surat kabar, dokumen rahasia, surat izin, bahkan juga kartu mainan dikenakan pajak tanpa pengecualian.
  1. Quartering Acts (1765 dan 1774)
Disetujui parlemen walaupun keadaan masih meragukan. Ia memberi pedoman baru bahwa tentara yang dikirim ke koloni harus disediakan perumahan dan makanan oleh koloni. Akibatnya, banyak rakyat koloni beranggapan bahwa kebebasan koloni akan dibatasi. Keadaan makin buruk ketika rakyat Amerika memboikot berbagai barang dari Inggris. Hampir seribu pedagang Amerika sepakat secara resmi tidak akan mengimpor barang dari Inggris. Akibatnya, banyak pedagang Inggris dirugikan.
 Ramainya protes dan resolusi dari Amerika telah mengalahkan George Grenvile dan digantikan oleh Lord Rockingham sebagai perdana menteri, kemudian parlemen mengadakan siding istimewa . akhirnya pada Maret 1766 parlemen setuju membatalkan Stamp Act. Pada hari yang sama parlemen menyetujui berlakunya Declaratory Act yang menyatakan bahwa koloni adalah subordinat dan parlemen dapat membuat undang-undang untuk mengikat kawasan dan rakyat Amerika. Pada Juni 1767 lahirlah Townshend Act yang mengenakan pajak kepada cermin, cat, kertas dan the yang diimpor ke Amerika serikat agar membolehkan Inggris mendapat 40 ribu pound dari Amerika serikat. Suasana terkontrol sekitar enam bulan, tidak berapa lama banyak rakyat koloni memboikot berbagai barang dari Inggris. Akibatnya pada akhir tahun 1769 impor dari Inggris merosot secara drasts dan tinggal setengah saja.
Pada 1768 Samuel Adams dari Boston berpendapat bahwa parlemen tidak berhak membuat Undang-undang berkaitan dengan koloni. Pada masa yang hampir sama, lanjutan dari Kongres Kontinental Pertama pada Oktober 1765, dewan perwakilan Massachusetts telah mengantar Circular letter kepada badan perwakilan di berbagai negeri. Kemudian Lord Hillsborough sebagai menteri koloni memerintahkan agar gubernur membubarkan dewan perwakilan Massachusetts. Dia bahkan mengantar dua resimen tentara ke Boston. Adanya tentara ini telah memancing amarah penduduk setempat. Beberapa insiden kecil terjadi antara tentara merah dengan penduduk Boston dan mencapai puncaknya pada Maret 1770 dengan lahirnya Pembunuhan Boston. Tentara tersebut telah menembak banyak rakyat yang marah atas kehadiran mereka. Akibatnya pada April 1770 Town-shend dibatalkan kecuali pajak untuk teh.[10]
Berbagai gejolak yang terjadi dalam koloni sebenarnya cermin daripada protes terhadap raja Inggris yang mencoba menjadi penguasa tunggal. George III berjuang keras untuk dapat menjadi raja yang dapat mengemudikan kerajaan di tangannya sendiri. Perdana menteri yang diangkatnya sekadar melakukan apa yang diinginkan. Sewaktu-waktu raja dapat mengganti perdana menteri yang dianggap George III telah gagal dalam tugasnya atau karena raja tidak menyukainya.[11]
Selama sekitar dua tahun keadaan menjadi aman, tidakada kejadian penting. Banyak pedagang yang mengimpor teh dan membayar cukainya pula, tetapi banyak juga rakyat yang tetap memboikot teh dari Inggris. Penyelundupan barang-barang impor, terutama teh dari Belanda. Patrol tentara laut Inggris untuk mengikis penyelundupan makin digalakkan. Umpamanya patrol yang dilakukan perahu Gaspee di teluk Narragan-sett, di sebelah selatan Providence 1772. Dalam mengejar penyelundup, komandan Gaspee Letnan Dudingston mengusut hampir semua orang didaerah tersebut. Akibatnya, pada malam hari rakyat yang marah karena dicurigai menyerang Gaspee. Selain melukai Dudingston, perahu tersebut dibakar hangus.
Inggris yang mencoba menyelidiki peristiwa ini tidak memperoleh kerjasama dari siapa saja, semuanya  tutup mulut, tidak mau memberikan keterangan. Keadaan makin bertambah buruk karena Lord North (perdana menteri baru) memberikan izn EIC (East India Company) menjual 17 juta pon teh ke Amerika Serikat, agar EIC tidak bangkrut. Banyak keuntungan yang diperoleh EIC tetapi suap menyuap, biaya tentara untuk keamanan telah merugikan EIC. Kerajaan Inggris memeras kekayaan koloni. Dengan penjualan teh dengan harga yang melawan karena EIC menjual langsung ke Amerika Serikat dengan tidak dikenakan cukai, EIC tetap meraih keuntungan yang cukup banyak.
Rakyat setempat tidak gembira, tetapi mereka marah. Mereka mempertanyakan tidak saja pajak teh tetapi juga hak monopoli yang dinikmati EIC. Di Boston, ribuan rakyat setempat menunggu saat kedatangan kapal Dorthmouth yang sampai pada 27 November 1773. Mereka berhasil agar awak kapal tidak membongkar kapal. Dalam saat yang kritis ini, pada 16 desember Gubernur Hutchinson bersiap untuk merampas the tersebut. Tiba-tiba sekelompok orang kulit putih yang menyamar sebagai orang Indian telah naik ke kapal dan membuang muatannya ke laut. Banyak orang yang ada sorak sorai bergembira. Raja George III yang marah telah memberikan ultimatum “We must master them or totally leave them to themselves”. Parlemen segera memberi jawaban dengan memberlakukan tiga undang-undang yang dikenal dengan Coersive Act pada 1774. Awal-awalnya parlemen merancang Boston Port Act yang menutup pelabuhan Boston untuk perdagangan sehingga rakyat Boston membayar harga teh yang dibuang ke laut. Kemudian diberlakukan Justice Act yang memungkinkan siapa saja yang didakwa membunuh,dapat diadili di luar koloni tempat terjadinya kasus terlibat. Akhirnya diberlakukan Quartering Act yang memberikan wewenang penuh kepada komandan tentara memberi  tempat kediaman tentara-tentaranya walaupun tempat tersebut adalah perumahan pribadi.[12]
Yang sukar dipahami rakyat adalah Coersive Act hanya berlaku secara konsisten di Massachusett. Politik ini diamalkan dengan harapan agar koloni yang lain menjadi sadar dan mau mengikuti apa yang diinginkan Inggris kelak. Tetapi jawaban rakyat hampir sama karena mereka merasakan tidak ada keadilan dari undang-undang yang berlaku.


C.  PENUTUP
Pada Juni 1774 diadakan musyawarah antar delegasi dari seluruh koloni kecuali Georgia. Mereka sepakat bahwa mereka menginginkan adanya wakil di parlemen sehingga dapat memperjuangkan nasib koloni. Parlemen masih mempunyai hak untuk membuat undang-undang bagi koloni tetapi tidak untuk mendominasi koloni.[13]
Berbagai usul disajikan, ada yang berhasil dan memberi makna keras kepada semua delegasi karena usul tadi tidak saja diucapkan tetapi juga disertakan dengan pamplet. Adapula usul Joseph Galloway yang coba mengatur hubungan antara Inggris dengan koloni. The Galloway Plan hampir identik dengan yang direncanakan B. Franklin 1754 yaitu Albany Plan yang akan mempersatukan Inggris dan koloni saat menghadapi musuh bersama Prancis. Usul tersebut ditolak. Parlemen setuju pada Januari 1775, digunakan tentara untuk menghukum Massachusett. Dengan tuduhan memberontak terhadap kerajaan, semua daerah nelayan dan berbagai pelabuhan mereka ditutup. Akibatnya, mulai timbul keinginan rakyat Amerika Serikat untuk melepaskan diri dari pemerintahan Inggris. Segera saja rakyat Massachusett menubuhkan pasukan sukarela untuk mempertahankan diri sekiranya diserang tentara Inggris.
Perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat mulai kelihatan kesannya, karena para aktivisnya setuju dengan symbol revolusi yaitu the son of liberty.  Dengan symbol ini satu decade yang lalu mereka berhasil memaksa Adrew Oliver berhenti sebagai agen penjual perangko. Pada 14 Agustus 1765. Tetapi sebelum 1775 pengaruh symbol ini terbatas, lebih bersifat kaum elit. Banyak yang memberikan dukungan, mengumpulkan senjata dan melatih pengikutnya dalam ketentaraan. Mereka siap berperang apabila diperlukan. Semua ini memperkuat tekad menentang usul dari Kerajaan Inggris.

BIBLIOGRAFI

Haikal, Husain. 1997. Pencerahan, Identitas dan Konflik Inggeris-Amerika Serikat (INFORMASI: Kajian Masalah Pendidikan dan Ilmu Sosial No. 1 Th. XXV. 1997)

Norton, Beth Mary, et.al. 1990. A People and A Nation A History of the United States.Boston: Houghton Mifflin

Songo, Edi. 2007. Buku Genius Senior. Jakarta: Wahyu Media
Soebantardjo. 1961. Sari Sedjarah Djilid II: Eropah-Amerika. Jogjakarta: Bopkri



[1] Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
[2] Songo, Edi. 2007. Buku Genius Senior. Jakarta: Wahyu Media, hal. 267
[3] Ibid., hal. 201
[4] Haikal, Husain. 1997. Pencerahan, Identitas dan Konflik Inggeris-Amerika Serikat (INFORMASI: Kajian Masalah Pendidikan dan Ilmu Sosial No. 1 Th. XXV. 1997),hal. 5 dalam Arthur M.Schlesinger. 1987. The Historical Climate of Reform. Guildford: The Dushkin Pub, hal. 236
[5] Norton, Beth Mary, et.al. 1990. A People and A Nation A History of the United States.Boston: Houghton Mifflin, hal. 110 dalam Haikal, Husain. 1997. Pencerahan, Identitas dan Konflik Inggeris-Amerika Serikat. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, hal. 6
[6] Ibid., hal. 7
[7] Inggris ingin membalas dendam terhadap penduduk Amerika. Walaupun Amerika telah bekerja keras membantu Inggris dalam Perang Tujuh Tahun, tetapi  Amerika tetap berdagang dengan musuh-musuh Inggris. Inggris merasakan dirugikan dan enggan melihat penderitaan dan berbagai sumbangan penduduk koloninya selama perang tersebut. (Lihat Soebantardjo. 1961. Sari Sedjarah Djilid II: Eropah-Amerika. Jogjakarta: Bopkri, hal. 135-138)
[8] Haikal, Husain. 1997. Pencerahan, Identitas dan Konflik Inggeris-Amerika Serikat. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, hal. 8
[9] Ibid., hal. 8-10
[10] Ibid.,hal.12
[11] Ibid.,
[12] Ibid.,hal.14
[13] Tersaji dalam A Declaration of Right and Grievances (sepakat membuat protes keras terhadap segala tindakan Inggris sejak 1763, rakyat mengankat senjata apabila hak mereka dilanggar, menumbuhkan Continental Association untuk memboikot barang dari Inggris dan menghentikan ekspor ke Inggris)

2 komentar:

laely army mengatakan...

oke,,trimakasih,,keep on writing!

Trianing Thias mengatakan...

iya ibu trimaksih