IDENTITAS DAN KONFLIK INGGRIS - AMERIKA SERIKAT
OLEH: TRIANING
THIAS[1]
A.
PENDAHULUAN
Inggris adalah
negara kerajaan yang terkenal dan makmur. Nenek moyangnya yang agresif,
mengarungi samudera luas dan menaklukan serta menjajah bangsa-bangsa di Benua
Asia, Afrika, Australia dan Amerika. Pengaruhnya yang kuat dan jajahannya yang
sangat luas membuat bahasa Inggris menjadi bahasa utama di dunia. Jumlah
jajahannya tidak kurang 65 negara yang terdiri atas 48 negara persemakmuran dan
17 masih bersifat koloni.[2] Amerika sendiri merupakan
bekas jajahan Inggris dan merdeka pada tanggal 4 Juli 1776. Amerika merupakan
negara super power dan paling maju di
dunia.[3]
Pada saat perang
Inggris dan Perancis, banyak orang Amerika yang menjadi tentara rakyat dengan
tidak pernah menerima latihan terlebih dahulu. Mudah dipahami apabila mereka
kurang mengenal disiplin tentara yang sebenarnya, apalagi mereka masih muda
berusia antara 16 hingga 29 tahun. Walaupun demikian dengan berbagai
pertempuran yang ada membuktikan bahwa mereka adalah para pejuang yang harus
diperhitungkan. Secara terperinci tentang tentara rakyat Amerika yang mengabdi
untuk waktu yang terbatas diuraikan berikut ini:
During
time of war English colonist became reluctant mili-tiamen who would only serve
for shorts terms and who were untrained as soldiers. They proved themselves to
be the firstrate fighters on many occasions, but they often refused to fight
beyond the boundaries of their own colony or during the seasons when they were
needed on the farm.[4]
Sebagian
mereka ada yang marah terhadap sikap tentara Inggris yang menhukum mereka jika
melanggar disiplin. Akibatnya, setelah perang selesai secara umum orang Amerika
mulai menemukan identitasnya. Walaupun mereka masih mengibarkan bendera Inggris
atau minum arak untuk kesahatan raja Inggris, tetapi mereka secara mantap
menyatakan bahwa diri mereka sebagai warga koloni AS. Hal ini sejalan dengan
ucapan mereka, seperti: “I am a
Massachusetts man, a Virginia man, a Georgia man.”[5]
Selain
mempunyai identitas yang makin mantao, wawasan mereka juga makin meluas karena
sejak pertengahan abad XVIII hubungan dagang antara Amerika Serikat, Inggris
dan Perancis semakin lancar. Selain itu, mereka yang berharta juga dapat
memuaskan selera model pakaian mereka. Sebagian mereka ketika di kota-kota
besar dapat memerhatikan boneka diberi pakaian model mutakhir yang dikenal
sebagai grand courier de la mode (guide
to the fashions). Bahkan dikatakan “If
you went to Philadhelphia or New York or Boston, you would find theaters,
newspaper, concerts, dances, tavernsthe various things that make up the web of
city lfe.”[6]
Selain berbagai pusat hiburan, Amerika Serikat juga berhasil mengembangkan industri
bajanya.
B.
PEMBAHASAN
Dalam kondisi
masyarakat koloni yang demikian itu, Inggris ingin menguatkan pemerintahan
koloninya secara kurang bijak.[7] Perang dengan Perancis
juga banyak menghabiskan dana Inggris sehingga mereka yang berkuasa di London
ingin membayar berbagai pengeluaran yang ada. Semua pengeluaran tadi telah
berganti menjadi hutang. Sejak 1754 hingga perang selesai, hutang Inggris dari
73 juta pound menjadi 137 juta pound. Pelunasan hutang dapat segera dilakukan
Inggris jika Amerika turut membayar sehingga sewajarnya apabila penduduk
Amerika dikenakan pajak.[8]
Pada prinsipnya semua
pajak yang akan dipungut dari koloni ditentang rakyat Amerika secara keras
karena belum pernah sebelumnya parlemen membebani koloni dengan pajak. Agar
protes mereka mendapat perhatian dari kelompok penguasa, mereka meneriakkan “No Taxation without representation”
beberapa contoh pajak yang mendapat protes diantaranya:[9]
- Sugar Act (1764)
Mengenakan pajak kepada gula, kopi, anggur, dan
berbagai hasil yang lain seperti besi, bahan mentah sutera serta potash, yang
diimpor ke Amerika Serikat.
- Currency Act (1764)
Yang melarang Amerika mencetak uang kertas sendiri.
Larangan ini sangat merugikan karena orang Amerika tidak mempunyai tambang emas
atau perak dan tidak dapat mengimpor emas karena akan menyebabkan deficit
neraca perdagangan.
- Stamp Act (1765)
Yang mengenakan pajak kepada semua barang yang
dicetak di Amerika Serikat. Semua surat kabar, dokumen rahasia, surat izin,
bahkan juga kartu mainan dikenakan pajak tanpa pengecualian.
- Quartering Acts (1765 dan 1774)
Disetujui parlemen walaupun keadaan masih meragukan.
Ia memberi pedoman baru bahwa tentara yang dikirim ke koloni harus disediakan
perumahan dan makanan oleh koloni. Akibatnya, banyak rakyat koloni beranggapan
bahwa kebebasan koloni akan dibatasi. Keadaan makin buruk ketika rakyat Amerika
memboikot berbagai barang dari Inggris. Hampir seribu pedagang Amerika sepakat
secara resmi tidak akan mengimpor barang dari Inggris. Akibatnya, banyak
pedagang Inggris dirugikan.
Ramainya protes dan resolusi dari Amerika
telah mengalahkan George Grenvile dan digantikan oleh Lord Rockingham sebagai
perdana menteri, kemudian parlemen mengadakan siding istimewa . akhirnya pada
Maret 1766 parlemen setuju membatalkan Stamp
Act. Pada hari yang sama parlemen menyetujui berlakunya Declaratory Act yang menyatakan bahwa
koloni adalah subordinat dan parlemen dapat membuat undang-undang untuk
mengikat kawasan dan rakyat Amerika. Pada Juni 1767 lahirlah Townshend Act yang
mengenakan pajak kepada cermin, cat, kertas dan the yang diimpor ke Amerika
serikat agar membolehkan Inggris mendapat 40 ribu pound dari Amerika serikat.
Suasana terkontrol sekitar enam bulan, tidak berapa lama banyak rakyat koloni
memboikot berbagai barang dari Inggris. Akibatnya pada akhir tahun 1769 impor
dari Inggris merosot secara drasts dan tinggal setengah saja.
Pada 1768 Samuel Adams
dari Boston berpendapat bahwa parlemen tidak berhak membuat Undang-undang
berkaitan dengan koloni. Pada masa yang hampir sama, lanjutan dari Kongres
Kontinental Pertama pada Oktober 1765, dewan perwakilan Massachusetts telah
mengantar Circular letter kepada badan perwakilan di berbagai negeri. Kemudian
Lord Hillsborough sebagai menteri koloni memerintahkan agar gubernur
membubarkan dewan perwakilan Massachusetts. Dia bahkan mengantar dua resimen
tentara ke Boston. Adanya tentara ini telah memancing amarah penduduk setempat.
Beberapa insiden kecil terjadi antara tentara merah dengan penduduk Boston dan
mencapai puncaknya pada Maret 1770 dengan lahirnya Pembunuhan Boston. Tentara
tersebut telah menembak banyak rakyat yang marah atas kehadiran mereka.
Akibatnya pada April 1770 Town-shend dibatalkan kecuali pajak untuk teh.[10]
Berbagai gejolak yang
terjadi dalam koloni sebenarnya cermin daripada protes terhadap raja Inggris
yang mencoba menjadi penguasa tunggal. George III berjuang keras untuk dapat
menjadi raja yang dapat mengemudikan kerajaan di tangannya sendiri. Perdana
menteri yang diangkatnya sekadar melakukan apa yang diinginkan. Sewaktu-waktu
raja dapat mengganti perdana menteri yang dianggap George III telah gagal dalam
tugasnya atau karena raja tidak menyukainya.[11]
Selama sekitar dua
tahun keadaan menjadi aman, tidakada kejadian penting. Banyak pedagang yang
mengimpor teh dan membayar cukainya pula, tetapi banyak juga rakyat yang tetap
memboikot teh dari Inggris. Penyelundupan barang-barang impor, terutama teh
dari Belanda. Patrol tentara laut Inggris untuk mengikis penyelundupan makin
digalakkan. Umpamanya patrol yang dilakukan perahu Gaspee di teluk
Narragan-sett, di sebelah selatan Providence 1772. Dalam mengejar penyelundup,
komandan Gaspee Letnan Dudingston mengusut hampir semua orang didaerah
tersebut. Akibatnya, pada malam hari rakyat yang marah karena dicurigai
menyerang Gaspee. Selain melukai Dudingston, perahu tersebut dibakar hangus.
Inggris yang mencoba
menyelidiki peristiwa ini tidak memperoleh kerjasama dari siapa saja,
semuanya tutup mulut, tidak mau memberikan
keterangan. Keadaan makin bertambah buruk karena Lord North (perdana menteri
baru) memberikan izn EIC (East India Company) menjual 17 juta pon teh ke
Amerika Serikat, agar EIC tidak bangkrut. Banyak keuntungan yang diperoleh EIC
tetapi suap menyuap, biaya tentara untuk keamanan telah merugikan EIC. Kerajaan
Inggris memeras kekayaan koloni. Dengan penjualan teh dengan harga yang melawan
karena EIC menjual langsung ke Amerika Serikat dengan tidak dikenakan cukai,
EIC tetap meraih keuntungan yang cukup banyak.
Rakyat setempat tidak
gembira, tetapi mereka marah. Mereka mempertanyakan tidak saja pajak teh tetapi
juga hak monopoli yang dinikmati EIC. Di Boston, ribuan rakyat setempat
menunggu saat kedatangan kapal Dorthmouth yang sampai pada 27 November 1773. Mereka
berhasil agar awak kapal tidak membongkar kapal. Dalam saat yang kritis ini,
pada 16 desember Gubernur Hutchinson bersiap untuk merampas the tersebut.
Tiba-tiba sekelompok orang kulit putih yang menyamar sebagai orang Indian telah
naik ke kapal dan membuang muatannya ke laut. Banyak orang yang ada sorak sorai
bergembira. Raja George III yang marah telah memberikan ultimatum “We must master them or totally leave them
to themselves”. Parlemen segera memberi jawaban dengan memberlakukan tiga
undang-undang yang dikenal dengan Coersive Act pada 1774. Awal-awalnya parlemen
merancang Boston Port Act yang menutup pelabuhan Boston untuk perdagangan
sehingga rakyat Boston membayar harga teh yang dibuang ke laut. Kemudian
diberlakukan Justice Act yang memungkinkan siapa saja yang didakwa
membunuh,dapat diadili di luar koloni tempat terjadinya kasus terlibat.
Akhirnya diberlakukan Quartering Act yang memberikan wewenang penuh kepada
komandan tentara memberi tempat kediaman
tentara-tentaranya walaupun tempat tersebut adalah perumahan pribadi.[12]
Yang sukar dipahami
rakyat adalah Coersive Act hanya berlaku secara konsisten di Massachusett.
Politik ini diamalkan dengan harapan agar koloni yang lain menjadi sadar dan
mau mengikuti apa yang diinginkan Inggris kelak. Tetapi jawaban rakyat hampir
sama karena mereka merasakan tidak ada keadilan dari undang-undang yang
berlaku.
C.
PENUTUP
Pada Juni 1774 diadakan
musyawarah antar delegasi dari seluruh koloni kecuali Georgia. Mereka sepakat
bahwa mereka menginginkan adanya wakil di parlemen sehingga dapat
memperjuangkan nasib koloni. Parlemen masih mempunyai hak untuk membuat undang-undang
bagi koloni tetapi tidak untuk mendominasi koloni.[13]
Berbagai usul
disajikan, ada yang berhasil dan memberi makna keras kepada semua delegasi
karena usul tadi tidak saja diucapkan tetapi juga disertakan dengan pamplet.
Adapula usul Joseph Galloway yang coba mengatur hubungan antara Inggris dengan
koloni. The Galloway Plan hampir identik dengan yang direncanakan B. Franklin
1754 yaitu Albany Plan yang akan mempersatukan Inggris dan koloni saat
menghadapi musuh bersama Prancis. Usul tersebut ditolak. Parlemen setuju pada
Januari 1775, digunakan tentara untuk menghukum Massachusett. Dengan tuduhan
memberontak terhadap kerajaan, semua daerah nelayan dan berbagai pelabuhan
mereka ditutup. Akibatnya, mulai timbul keinginan rakyat Amerika Serikat untuk
melepaskan diri dari pemerintahan Inggris. Segera saja rakyat Massachusett
menubuhkan pasukan sukarela untuk mempertahankan diri sekiranya diserang
tentara Inggris.
Perjuangan kemerdekaan
Amerika Serikat mulai kelihatan kesannya, karena para aktivisnya setuju dengan
symbol revolusi yaitu the son of liberty.
Dengan symbol ini satu decade yang
lalu mereka berhasil memaksa Adrew Oliver berhenti sebagai agen penjual
perangko. Pada 14 Agustus 1765. Tetapi sebelum 1775 pengaruh symbol ini
terbatas, lebih bersifat kaum elit. Banyak yang memberikan dukungan,
mengumpulkan senjata dan melatih pengikutnya dalam ketentaraan. Mereka siap
berperang apabila diperlukan. Semua ini memperkuat tekad menentang usul dari
Kerajaan Inggris.
BIBLIOGRAFI
Haikal,
Husain. 1997. Pencerahan, Identitas dan
Konflik Inggeris-Amerika Serikat (INFORMASI: Kajian Masalah Pendidikan dan Ilmu
Sosial No. 1 Th. XXV. 1997)
Norton,
Beth Mary, et.al. 1990. A People and A
Nation A History of the United States.Boston: Houghton Mifflin
Songo, Edi. 2007. Buku Genius Senior. Jakarta: Wahyu Media
Soebantardjo. 1961. Sari Sedjarah Djilid II: Eropah-Amerika. Jogjakarta:
Bopkri
[1]
Mahasiswa Program Studi
Pendidikan Sejarah Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka
[2] Songo, Edi. 2007. Buku Genius Senior. Jakarta: Wahyu
Media, hal. 267
[3] Ibid., hal. 201
[4] Haikal, Husain. 1997. Pencerahan, Identitas dan Konflik
Inggeris-Amerika Serikat (INFORMASI: Kajian Masalah Pendidikan dan Ilmu Sosial
No. 1 Th. XXV. 1997),hal. 5 dalam Arthur M.Schlesinger. 1987. The Historical Climate of Reform. Guildford:
The Dushkin Pub, hal. 236
[5] Norton, Beth Mary, et.al. 1990. A People and A Nation A History of the
United States.Boston: Houghton Mifflin, hal. 110 dalam Haikal, Husain.
1997. Pencerahan, Identitas dan Konflik
Inggeris-Amerika Serikat. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, hal. 6
[6] Ibid., hal. 7
[7] Inggris ingin membalas dendam
terhadap penduduk Amerika. Walaupun Amerika telah bekerja keras membantu
Inggris dalam Perang Tujuh Tahun, tetapi
Amerika tetap berdagang dengan musuh-musuh Inggris. Inggris merasakan
dirugikan dan enggan melihat penderitaan dan berbagai sumbangan penduduk
koloninya selama perang tersebut. (Lihat Soebantardjo. 1961. Sari Sedjarah Djilid II: Eropah-Amerika. Jogjakarta:
Bopkri, hal. 135-138)
[8] Haikal, Husain. 1997. Pencerahan, Identitas dan Konflik
Inggeris-Amerika Serikat. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta, hal. 8
[9] Ibid., hal. 8-10
[10] Ibid.,hal.12
[11] Ibid.,
[12] Ibid.,hal.14
[13] Tersaji dalam A Declaration of
Right and Grievances (sepakat membuat protes keras terhadap segala tindakan
Inggris sejak 1763, rakyat mengankat senjata apabila hak mereka dilanggar,
menumbuhkan Continental Association untuk memboikot barang dari Inggris dan
menghentikan ekspor ke Inggris)
2 komentar:
oke,,trimakasih,,keep on writing!
iya ibu trimaksih
Posting Komentar